Hymne Kematian
| Posted in Kehidupan | Posted on 20.23
Aku tak tahu. . .
Sudah aku katakan. . .
Ini nadiku yang hilang. . .
Belum lagi tulung rusukku yang tercecer entah kemana ? ? ?
Ada kesal saat mengulang takdir. . .
Bukan seperti ini kematian yang sesungguhnya. . .
Mengeja pada sederet aroma yang nakal. . .
Merengek pada sekoyak jantung yang keram. . .
Aku benar-benar tak tahu. . .
Sudah aku katakan. . .
Ini darahku yang malang. . .
Belum lagi lensaku yang kelam entah karena siapa ? ? ?
Sekali lagi aku sangat tidak tahu. . .
Sudah aku katakan. . .
Ini sendiku yang karam. . .
Belum lagi nafasku yang dangkal entah untuk siapa ? ? ?
Sungguh. . .
Aku turut bela sungkawa atas kematian nadimu. . .
Kesal. . .
Saat dia menyeret nyawamu. . .
Menguburmu bersama jantungnya. . .
Namun aku pastikan. . .
Kau tidak akan mati sekarang. . .
Aku nyaris terkoyak. . .
Tapi sungguh aku memang tak tahu. . .
Sudah aku katakan. . .
Ini kehidupanku yang tenggelam. . .
Belum lagi aku harus melihatmu terbenam entah dengan siapa ? ? ?
Ya memang seperti ini. . .
Kuat kau berdiri di kode kehormatan. . .
Hingga bernyanyi menyuruhku bungkam. .
Tapi yang jelas. . .
Ketika kau direnggut hitam. . .
Hanya aku yang mampu menolongmu. . .
Karena ketika kau berteriak membelah paru-paruku. . .
Aku sangat tidak bisa membiarkanmu meleleh seperti itu. . .
Remuk yang kau tunjukkan . . .
Tak akan mengubah keadaan. . .
Aku hanya akan mendoakanmu. . .
Agar kau tidak salah jalan ketika menjahit nadimu disajadahku. . .
Namun untuk yang terakhir kalinya aku katakan. . .
Aku sungguh tidak tahu. . .
Mengapa Tuhan menyuruhku membalut kerangkamu. . .
Padahal aku tahu. . .
Bukan nafasmu yang akan betah disana. . .
Hanya sebaris hymne yang selalu kau nyanyikan. . .
Tentang kematian. . .
Yang sesunguhnya tak pernah menguburmu. . .
Ima
Bengkulu
Comments (0)
Posting Komentar