kita berpisah, karena kita punya perih. maka, dari luka rahim ibumu
kubangun jembatan kecemasanku. kita berdiri
di jembatan itu, dan kau bercahaya sebagai matahari baru:
bukankah engkau seribu matahari. lalu kujahit perih-perih kelahiranmu
jadi rumah waktu, tempatmu melukis tangis dan menyimpan
rembulan sebagai senyuman yang pahit. tapi senyummu adalah
ketabahan batu terlepas dari gunung, sebab kau tahu
dalam perpisahan selalu ada jembatan
yang menghubungkan kesedihan-kesedihan
jembatan kecemasan yang kubangun dari luka rahim ibumu