kumpulan puisi

Seribu Matahari

| Posted in , | Posted on 20.41


kita berpisah, karena kita punya perih. maka, dari luka rahim ibumu

kubangun jembatan kecemasanku. kita berdiri

di jembatan itu, dan kau bercahaya sebagai matahari baru:

bukankah engkau seribu matahari. lalu kujahit perih-perih kelahiranmu

jadi rumah waktu, tempatmu melukis tangis dan menyimpan

rembulan sebagai senyuman yang pahit. tapi senyummu adalah

ketabahan batu terlepas dari gunung, sebab kau tahu

dalam perpisahan selalu ada jembatan

yang menghubungkan kesedihan-kesedihan

jembatan kecemasan yang kubangun dari luka rahim ibumu


kenapa kita berpisah, tanyamu dalam tangis tiba-tiba

yang menggetarkan malam . ya, kenapa kita berpisah,

jika kelahiran seperti luka rahim ibuku?

kenapa kita saling menjauh, jika perpisahan ternyata sepanjang

jembatan kecemasan ayahku? kau pun tertidur dalam dekapan angin

dan ketika terjaga, kau berkata dalam suara sebiru api:

kapankah jembatan itu mengembalikanku kepadamu?

aku pun menangis karena cemburu: tangismu penuh warna

hingga semua lukisan berguguran

dari kanvas kesedihanku. tangismu selalu merebut tidurku

dari malam-malam yang lelah, lalu kau susun

jadi jengkal-jengkal waktu itulah kita berjalan

mendekap seluruh kepedihan dari perih rahim ibumu


tapi jangan lagi menangis

karena di neraka pun aku mendekap matahari



Win
Indonesia

SocialTwist Tell-a-Friend

Comments (0)

Posting Komentar

"Top Puisi Bahasa Jiwa"