Gagasan Jiwa
| Posted in Kehidupan | Posted on 21.05
Pengap nadiku terus mengadopsi lensamu. . .
Masih saja kau bergelayut pada seonggok senja yang memakan darahku diam-diam. .
Segelintir nusa bangsa mengeja-ngeja namamu. . .
Membantuku menyembunyikan seteras wajah segarmu. . .
Dalam hikmat. . .
Masih aku bergantungan pada setapak rute gagak merah. . .
Yang segera menyelam dan turut membawaku. . .
Menenggelamkan aku pada satu kerangka episode ganasmu. . .
Lalu dalam jingga. . .
AKu berdiam sejenak mengitari tahta putih berayun. . .
Dengan nada sederhana. . .
Sempat aku membunuh namamu yang kekal bergelimangan pada jantungku. . .
Meraung-raung. . .
Menggelepar. . .
Mengingat sebuah potret pertemuan. . .
Serasa sesak menanjak pada jiwa. . .
Keram hatiku sejenak melukiskan sebuah kehadiran tak terduga. . .
Lama sisi normalku menyandera tiris semangatmu. . .
Sesal harap penuh mengejek. . .
Sedang mereka berdiskusi. .
Masih mau memisahkan sangkaku. . .
Lalu aku. . .
Hanya menelaah . . .
Menikmati sebuah kehilangan dimata mereka. . .
Dan mereka diluapkan satu derajat senyum nakal. . .
Menyuruhku memberi nama. . .
Memberi nama pada setumpuk jejak. . .
Yang memang sudah tak bisa aku observasi lagi. . .
Ima Kharisma
Bengkulu
Comments (0)
Posting Komentar